Aku tahu dia.
Hanya sekedar tahu saat itu. Cukup.
Di jenjang pendidikan berikutnya kami dipertemukan kembali melalui salah satu jejaring sosial. Hanya dipertemukan kembali.
Dalam kurun waktu sekitar 4 bulan kami menjadi teman yang tak hanya saling tahu. Entah apa yang membuat kami menjadi semakin dekat.
Sampai suatu saat aku mengetahui bahwa aku harus menjauhi semuanya. Konflik itu datang dan sudah dihadapanku. Sangat mengganggu kondisiku saat itu.
Suatu saat aku mulai percaya padanya. Hingga aku memutuskan untuk menghadapi konflik itu dan kami dipersatukan. Sesuatu yang sangat tidak diduga. Ini berjalan hingga sekarang. Saat ini.
Dia.
Aku menyukainya. Dari segi fisik aku menyukainya. Dari segi perasaan, itu sudah lain hal, antar jiwa.
Aku menyayanginya.
Se-sempurna itukah dia untukku? Tidak.
Ada hal yang aku kurang setuju darinya.
Apa itu? Hanya Tuhan, aku dan dia yang tahu. Dia seperti itu karena efek dari sikapku.
Aku seperti punya 2 jiwa yang mempunyai keinginan yang sama. Kami punya banyak mimpi, banyak cita-cita. Karena dari mimpilah kenyataan bisa kami gapai.
Aku yakin dia bisa melindungiku dibalik badan besarnya.
Aku yakin dia bisa menutup kesedihanku dibalik senyum manisnya.
Aku yakin dia bisa membantu menggapai impianku dibalik postur tingginya.
Aku yakin dia selalu mengawasiku dibalik pandangan hatinya.
Aku yakin dia bisa membimbingku dibalik ucapannya.
Aku yakin dia bisa membuatku percaya dibalik kejujurannya.
Aku yakin dia bisa menghiburku dibalik canda tawanya.
Aku yakin dia bisa mengatasi kemanjaanku dibalik kedewasaannya.
Aku yakin dia bisa membuatku bangkit disaat aku jatuh, dibalik dukungannya.
Aku yakin dia bisa membuatku bangga dibalik kesetiaannya.
Di dunia ini tidak ada yang sempurna, yang ada hanya saling menyempurnakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
What do you think?